Setiap manusia pasti akan mengalami masa remaja, fase dimana manusia mencari jati dirinya dalam menjalani hidup kedepan. Tidak terkecuali pada fase remaja ini, para kawula muda mulai memiliki ketertarikan pada lawan jenisnya.
Hal yang sangat lumrah dan normal terjadi pada remaja yang memiliki semangat dan hasrat yang menggebu. Pada kebanyakan remaja memiliki seorang kekasih dijadikan sebagai simbol bahwa bahwa dirinya telah menjalani masa dewasa.
Namun saat ini dipergaulan para remaja pada masa sekarang, terjadi banyak dilema dimana pacaran bukan saja untuk dijadikan media saling mengenal kepribadian satu sama lain untuk menjadi pijakan pilihan guna melangkah ke jenjang yang lebih jauh, tak lebih dan tidak keluar dari norma-norma selayaknya budaya timur. Saat ini tren telah berpihak pada budaya barat, yang telah digunakan remaja saat ini, mulai dari musik, stlye, tak luput juga cara berpacaran. Para remaja saat ini cenderung lebih mengikuti cara-cara kapitalis yang dinilai lebih semau gue dan cocok dengan jiwa muda masa remaja. Perkembangan tekhonologi, berkembangan informasi dunia luar yang saat ini mudah diakses, mungikn juga menjadi salah satu faktor perubahan tren pergaulan anak muda yang menjadikan degradasi moral kawula muda Indonesia saat ini.
Pacaran yang dulu pada masa bapak atau ibu kita terkesan telah kuno dan sudah sepantasnya ditinggalkan. Saat ini norma-norma yang mengikat kehidupan manusia tak lagi berguna, saat pasangan remaja yang sedang dimabuk asmara bertemu. Ciuman hingga berhubungan badan dan berganti-ganti pasangan sudah menjadi sesuatu yang lumrah dalam pergaulan anak muda masa ini. Pacaran masa kini kiranya telah dijadikan alat pengukur gengsi, saat remaja telah melepas keperjakaan atau keperawanannya diluar penikahan, dijadikan satu nilai plus bagi mereka.
Having fun mungkin kata inilah yang pantas diungkapkan pada perilaku remaja saat ini, kita sebagai anak muda mungkin tidak akan pernah berpikir panjang karena menilai pada umur yang masih muda lebih baik dipergunakan untuk mengejar kesenangan. Padahal telah banyak contoh kasus munculnya penyimpangan-penyimpangan yang diakibatkan karena seks pra nikah, seperti aborsi yang dilakukan pasangan yang belum matang, dan banyak terjadinya pernikahan usia dini yang beresiko terjadinya perceraian karena belum terkontronya emosi antara pasangan.
Mungkin kembali pada pikiran jernih yang mengacu pada norma agama adalah yang pantas untuk mencegah perilaku yang saat ini menjadi tren dikalangan anak muda. lebih baik ikuti jalan yang baik atau ciptakan tren sendiri. Orang bijak berujar, mengapa takut menjadi minoritas selama hal yang dilakukan itu baik dan tak menyakiti orang lain.
Peran orang tua menjadi kunci penting dalam kasus ini, perhatian orang tua dengan pendekatan yang tidak terlalu berkesan menggurui atau mengurung jiwa muda para remaja, dengan merangkul anaknya sebagai sosok teman dimana sang anak dapat dengan terbuka menuturkan curahan hatinya, dan menjadikan sosok orang tua sebagai wadah pemberi solusi dari semua masalah yang didera sang anak. Dan masih banyak faktor lain yang dapat mencegah atau setidaknya mengurangi dampak dari perilaku seks pra nikah, adalah peran penting dari lingkungan, dalam hal ini tontonan yang bermoral dan juga peran pemerintah yang tidak mengumbar perilaku seks bebas, seperti contoh kasus skandal seks salah satu aparat pemerintah paling terhormat yang baru saja terbongkar setelah lama ditutupi.

No comments:
Post a Comment