Thursday, December 25, 2008

MEMAHAMI MAKNA MUDIK LEBARAN

Pengertian Politik

Indahnya hari kemenangan Indul Fitri akan terasa kurang apabila dirayakan tanpa dengan orang – orang terdekat yang kita sayangi. Pada saat menjelang Idul Fitrilah banyak dijadikan momen yang tepat bagi para perantauan khususnya untuk kembali ke kampung halamannya dari yang untuk sekedar melepas rindu dengan sanak keluarga di kampung halaman hingga sampai dengan mengenang kembali suasana kampung yang tidak akan mungkin ddapatkan dinegeri orang.

Pulang kampung atau yang biasa dengan istilah mudik ini memang menjadi fenomena tersendiri bagi Indonesia. Maklum saja, karena hanya di Indonesialah kita bisa menemukan fenomena tersebut. Dengan adanya kalender khusus dari pemerintah yang mencantumkan sebagai hari libur nasional maka akan menambah dorongan atau motivasi tersendiri bagi masing – masing individu untuk mudik. Sebab, dengan begitu masing – masing anggota keluarga yang sama – sama merantau akan saling bertemu di kampung. Berbeda dengan hari libur yang lainya yang waktu dan momen untuk saling bertemu dengan yang lainnya akan cukup mengalami hambatan.

Mengingat sudah mengakarnya tradisi mudik, menyebabkan bertumbuhnya ideologi yang menyatakan tidak afdol kita merayakan lebaran jika tidak dikampung halaman. Bagi kalangan perantauan, kota adalah tempat perjuangan mengatasi kemiskinan hidup, atau bahkan tempat mengadu nasib. Bagi sebagian orang yang beruntung mampu hidup lepas terlepas dari ketergantungan kampung halaman akan sudah memikirkan betul anggaran yang harus dikeluarkan untuk mudik. Karena kita tahu, saat menjelang hari lebaran semua harga- harga dipasaran naik tidak terkecuali sarana prasarana transportasi. Dengan demikian tidak sedikit mereka harus merogoh kocek dalam- dalam untuk melaksanakan tradisi ini. Namun karena adanya dorongan ingin bertemu sanak keluarga, maka tidak heran mereka menomerduakan masalah perhitungan. Namun akan tampak berbeda bagi sebagian orang yang bisa dikatakan masih belum bisa hidup dengan tentram di kota perantauan. Hal ini menimbulkan problematika tersendiri bagi dirinya karena tidak memiliki dana yang cukup untuk mudik.

Melihat dari peningkatan arus mudik secara dicermati dari tahun ke tahun selalu saja menjadi berita tersendiri. Dari padatnya jalur perjalanan darat, laut bahkan udara yang menyebabkan macetna siskulasi perputaran kehidupan. Kita ambil contoh jalur darat. Dengan perjalanan jalur darat yang padat dengan motor, mobil kendaraan umum lainya seperti bus maka tidak jarang terjadi kecelakaan-kecelakan fatal yang bisa merengut nyawa para pengemudik. Karena dalam keadaan macet, para pemudik saling beradu ketangkasan berkendara untuk cepat sampai tujuan. Dilain sisi, naik kereta api menjadi alternatif yang pas bagi para pemudik untuk berlebaran dikampung. Karena dengan harga tiket yang relatif murah dibandingkan transportasi lainnya para pemudik dapat menekan biaya pengeluarannya. Dan dengan murah itulah mereka rela berdesak – desakan dengan penumpang lain yang sangat berbahaya bagi keselamatan dirinya juga. Belum lagi bahaya akan para pencopet di kereta menambah rentetan resiko yang harus di tempuh.

Namun, belum habis disitu saja masalah yang dihadapi pemudik. Dalam masa menjelang hari raya Idul Fitri, angka tindakan kriminalitas semakin meningkat. Bagi merka yang kurang mampu mengontrol emosi jiwa, keadaan ini akan mendesak. Karena keadaan yang gelap mata dengan dalih untuk sebagai pemenuhan kebutuhan di hari raya hingga untuk sebagai modal untuk pulang kampung. Maka sering mereka berbuat nekad demi keinginannya tersebut. Seperti penodongan, penjambretan, pembiusan bahkan dikota-kota besar sekarang semakin semarak aksi perampokan rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya untuk mudik ke kampung halaman. Apabila kita tidak bisa mawas diri dengan masalah yang ada maka kita akan mendapat masalah yang baru yang mungkin akan malah merepotkan kita. Sungguh ini sangat ironis sekali yang bertentangan dengan makna yang terkandung dalam Idul Fitri.

Terlepas dengan resiko-resiko yang dihadapi, dorongan untuk berlebaran dikampung masih sangat tinggi. Dengan menyikapi kejadian yang biasa terjadi, tradisi lebaran juga dapat dijadikan sebagai ajang pamer kekayaan, pamer keberhasilan dan pamer kehidupan yang lebih dibandingkan dengan keadaan kampungnya. Menuntut dengan yang telah terjadi maka menyebabkanya probematika baru yang biasa disebut dengan istilah pendatang gelap. Dengan mengacu pada nasib sesama perantauan yang hidupnya bisa makmur di kota perantauan menyebabkan tekat untuk mencoba merantau dengan keahlian yang dirasa kurang memenuhi syarat yang dibutuhkan. Kita ambil contoh Jakarta, dengan angka pengangguran yang tiap tahunnya semakin meningkat dan juga sama meningkatnya dengan angka kriminalitas mengakibatkan Jakarta sekarang dirasa menjadi kota yang sangat mengerikan. Disini bertentangan dengan sebagai kota yang dituntut sebagai pelopor pembaharuan bagi kota – kota lainnya.

Oleh karenanya, pemerintah pusat bekerja sama dengan pemerintah daerah menghimbau bagi para pemudik untuk tidak membawa sanak keluarga atau kerabatnya untuk hidup dikota apabila tidak memiliki kemampuan yang menunjang kerjanya dikota. Sebagai tindakan tegas, pada masanya pemkot dengan jajaran satpot PP akan meninjak lanjuti apabila masih ada yang membangkang dengan dilakukannya razia – razia.

Sesungguhnya apabila kita mempunyai jiwa yang suci, hakekat mudik lebaran adalah meminta maaf dan mohon doa kepada orang tua atau saudara – saudaranya di kampung. Disamping merupakan tempat yang mudah untuk saling jumpa dengan sesama perantau yang berada dilain tempat. Karena sama – sama mengadu nasib di negeri orang, maka sewaktu berjumpa akan tampak dan keluar aneka kisah duka cita. Inilah yang memberikan kesan mendalam untuk bisa pulang ke kampung. Karena itu, kita rela melakukan apapun, menanggung segala resiko yang dihadapi bahkan dapat mengancam nyawa kita untuk bisa bertemu dengan orang – orang kita sayangi. Karena bertemu dengan orang – orang yang kita sayangilah menjadi momen yang tidak ternilai harganya.


No comments:

Post a Comment